NISTA DINA

Entah sebutan apa yang pantas untuk ku, aku yang nista aku yang penuh dosa aku penjinah,Tak pantas rasanya menampangkan mukaku di depan umum terlebih di depan suami dan puteri semata wayangku.
Karana uang dan kecantikanku telah membutakan sagalanya,  Aku lupakan kodratku sebagai wanita yang bersuami bahkan seorang ibu.

9tahun yang lalu  kuputuskan diri untuk bekerja ke luar negeri sebagai Buruh Migran…
Lingkungan,situasi dan kondisi yang membuat ku yakin dan semakin bulat untuk melakukannya, suami yang berpenghasilan bisa di bilang jauh dari kata cukup dan juga impian untuk bisa hidup lebih sepadan dan agar tak di pandang sebelah mata oleh tetangga, tuntutan masa depan anak juga menjadi pemicu bulatnya tekad ku.

Kerja sebagai buruh migran di Taiwan memeng sangat menjanjikan bagi kami kalangan ekonomi menengah ke bawah dan dengan tingkat pendidikan yang rendah, gajih kami sepadanlah dengan Umr staf administrasi kantoran di kota besar di indonesia yang bertitel Sarjana.

Jauh dari keluarga dengan rentang waktu yang lama membuatku berubah. Mungkin Karena menganggap aku bisa mencari nafkah sendiri sedang pendapatan suamiku jauh di bawah aku… Bahkan aku yang hampair 100% menopang kehidupan rumah tangga kami membuat aku sombong dan lupa diri. sedikit demi sedikit rasa cinta dan hormatku pada suami pun memudar, tak jarang aku bernada kasar dan membentak dia pada saat dia mengadukan ada kebutuhan ini itu bermaksud agar Aku menyuntikan dana ke rekeningnya.

“huftttt suami macam apa”

gumaamku dalam hati, terkadang hanya masalah sepele saja dia harus telepon mengadukannya padaku, tak jarang dia bikin naik pitamku.
Sedang perhatian tak pernah sedikitpun ku dapat,Dia seakan tak peduli saat ku butuh, Diapun tak bisa mendengar kala ku berkeluh kesah, tak ada kata manja menggoda tak ada lagi rayu, ini yang menyebabkanaku makin tak cinta dan tak horamat padanya, lama kelamaan akupun seamkin jenuh dengan hubungan pernikahanku, setan dalam hati sering berbisik

“sudahlah tinggalkan saja suamimu itu, dia tidak layak untukmu, tak bertanggung jawab, tidak pengertian, bahkan bisa di bialang dia setara dengan parasit di kehidupanmu,kamu ini masih muda dan cantik pasti abnyak laki laki yang mau sama kamu, kamu layak dapatkan yang lebih, lagi pula kamu pun tak tahu apa yang suami kamu lakukan saat ini, Dia jauh dari kamu tidak menutup kemungkinan Dia selingkuhin kamu, sedangkan kamu disisni terus terusan berkorban untuk dia, jangan bodah kamu…!!!!!!”

Bisikan bisikan itu makin sering ku dengar dalam pikiranku,merusak jaringan otakku,sehingga berfikir jernih dan positifpun sudah semakin susah apa lagi dengan kejenuhanku menjalani rutinitas sehari hari selama hampir 9th yang begini-begini saja membuat ku merasa bosan. Aku makin tenggelam dalam kesepian suamikupun bahkan semakin jarang menghubungiku sesekali saja itu pun karena dia ada kepentinapgan dan hujan bermaksud untuk memberikakku perhatian, dia sangat kaku, di jaman semodern ini kami masih saja di jajah komunikasi dengan berbagai alasan…. Jarak jauh membuat hubungan kita makin jauh, dia diam dan akupun makin tertutup, satu satunya tempat mengekspresikan perasaanku adalah di dinding facebook. akhir -akhir ini aku makin senang menghabiskan waktuku di facebook, dunia tak nyata tapi yaaaa…. Setidaknya mampu menghiburku dan sedikit mengurangi rasa kesepian, makin hari aku makin menikmati dunia ini bahkan fb bukan hanya kujadikan hiburan tapi ku jadikan sebagai kegiatan wajib sehari-hari, sampai sampai tak jarang ku lalaikan pekerjaanku, sering bergadang hanya untuk berbalas komen komen konyol sesama temen-temen facebooker. Sampai aku menemukan teman dekat sebut saja dia Boy, awalnya kita cuma berbalas like status lalu saling komen dan berlanjut ke inbox, makin hari hubungan ku dengan dia makin dekat walau hanya lewat udara dia cukup bisa menghibur dan bisa mengusir kesepianku, akupun kembali menemukan semangatku, dia 2th lebih muda dari usiaku statusnyapun masih lajang, tampang dan perawakannya ok, gaya hidupnya juga boleh, itu yang ku lihat dari mata mayaku.

Makin hari hubunganku dengan dia semakin akrab, makin dekat dan bisa di bilang kami sudah punya hubungan special, canda, rayu pujian, kangen cinta…. Sudah tak ragu lagi kami ungkapkan. Entah itu rayuan atau pun bualan, janji-janji palsunya atau pun bukan yang pasti aku sudah di buatnya gila, bisa di bilang aku sudah takluk apapun yang dia katakan aku turuti, tak jarang dia pun memintaku membelikannya barang barang, mengirimkan sejumlah uang, tapi itu ku anggap wajar dan sah sah saja karna toh itu juga untuk orang yg aku suka dan dia mampu membuatku bahagia,lagi pula kelak kita juga akan hidup brsama menjadi pasangan suami istri, aku Bahkan melupakan bahwa aku masih istri sah suamiku dan jelas saja aku tutupi dari si Boy. Janji manis si Boy tentang rencana masa depan pun setelah kami bertemu nanti sudah kami bicarakana dengan mantap, dan itu yang membuat aku semkin melupakan keluargaku Suami bahkan Anaku, setan dalam hatipun semakin mendukung….

“nggak rugilah kamu kalau harus ninggalin suami kamu, kamu dapatkan si boy, dia tampan, keren, kehidupannya boleh, dia juga lebih muda dari kamu , sudah jangan ragu-ragu tinggaljan saja suamimu dan pilihlah si boy!!!!”

Setahun sudah kujalani cinta mayaku dengan si boy, gak terasa kontrakku di Taiwanpun sudah hampir habis, minggu depan aku sudah bisa pulang ke Tanah air, sungguh sudah gak sabar pengen secepatnya pulang, tapi aneh aku hanya kangen dan pengen cepet ketemu si Boy saja yang lainnya sepertinya tidak, aku tidak merasakan kangen dengan yang lainnya kecuali si Boy. Dan Berita kepulangankupun sengaja tak ku kabarkan tepat waktu kepada keluargaku,aku pulang 1minggu lebih awal agar aku bisa bertemu dan puas puasin temu kangenku dengan si Boy dulu sebelum ku pulang dan berjumpa dengan keluargaku.

Hari kepulanganku tiba, degdeg kan sekali, gimana tidak aku mau bertemu dengan pangeran mayaku, aku sudah gila tapi aku tak pedulikan hal itu yang jelas aku suka, Boy pun cinta, Si Boy menjemputku di bandara tepat pada waktu kedatanganku kira kira jam 17.00 wib…. Senyum sumringah ku sunggingkan dan langkah cepat ku ayunkan, kedua bolamatakupun tajam dan liar mencari sesesok pangeran mayaku yang sudah buat aku gila. Meski belum pernah bertemu dengn dia sekalipun tapi aku pasti mengenali wajahnya dengan baik. Tidak di butuhkan waktu lama untuk mencarinya…. Hatiku berjuta rasa saat sepasang bolamataku menatap sosok yang aku rindukan, Waw ternyata si Boy lebih tampan aslinya, badannya tegap tinggi besar kulitnya putih bersih, penampilannya Huuuh….. kerenlah, pokoknya jauh lah dengan suamiku yang cuma petani.

“Boy…..!!!!!”

Teriaku kencang,dengan senyum yang tak henti-henti sambil melambay-lambaykan tanganku, aku tak pedilikan meski semua mata menatapku keheranan, Boy pun menengok kearahku. tak ku buang waktu langkah seribuku ku gerakan meski ribet dengan koper bwaanku…. Langkahku makin cepat langsungku tubruk saja badannya yang kekar itu, ku lihat boy sedikit heran dan kaget, mungkin Dia belum mengenaliku

“Kamu….????”

Tanya Boy keharanan sambil memandangiku, sedang tak ku lepaskan pelukku dari tubuhnya…

Sambil ku peluk erat aku jawab…

iya ini aku Dina, kamu tidak mengenaliku….?!

ow….. Ini beneran kamu?!

iya iya Boy ini aku

Kemudain boy pun membalas memelukku, dan tak mau membuang waktu kita berdua melangkah keluar Bandara menuju tempat dimana boy dengan satu temannya memarkirkan mobil yang sengaja dia sewa untuk menjemputku pulag ke rumah Boy di Serang Banten sebelum aku pulang ke rumah keluargaku sendiri di Tegal.

Hari sudah malam ketika sampai di rumah Boy ku lihat begitu sepi seperti tak berpenghuni kecuali boy, menurut dia semua keluarganya tinggal di kota.

huuuftttt perjalanan yang sangat melelahkan tapi sangat menyenangkan juga, boy pun memperlakukan aku dengan hangat dirumahnya dan itu yang membuat aku semakin nyaman, aku di suruhnya mandi agar bisa istirahat dengan cepat. Aku pun tak buang buang waktu untuk bergegas melakukannya. Sekelarnya aku mandi ku dapati boy sedang menerima telepon di ponsellnya tapi aku tak tahu entah itu dari siapa,yang jelas ku lihat ada perubahan di mukanya, Dia terlihat sangat tegang dan mukanya berubah pasih, seperti mendapat berita yang mengejutkan…
Dengan spontan ku bertanya

“boy…kamu terima telpon dari siapa”

“oh…. Enggak dari siapa siapa, ini temenku iseng aja”

Jawab boy

“kamu sudah kelar mandinya wah kamu cantik banget, makan dulu gih aku sudah beli makanan untuk kita”

Lanjut boy dengan suara manja merayuku sambil mendaratkan ciuman di pipiku meski demikian ku lihat masih ada tanda kegugupnya, tapi ku tepis saja rasa penasaranku….
Sekelarnya makan aku di ajak kembali kekamar pribadi Boy untuk istirahat, tapi bukannya istirahat kita malah bercengkramah liar layaknya PASUTRI yang sah…. Aku rela menyerahkan tubuhku untuknya, aku benar benar menyerahkan segalanya, aku sudah gila dosapun tak lagi terbaca.

Pagi pagi sekali Boy minta ijin padaku untuk keluar karena ada urusan sebentar, tapi sudah lebih dari jam 12 siang Boy belum juga datang, aku merasakan perutku lapar, tapi ternyata boy sudah menyiapkan roti dan beberapa makanan ringan untukku sebelum dia meninggalkanku, aku hanya tersenyum dan merasa diri begitu tersanjung oleh perlakuan boy yang begitu manis padaku.
Baru saja aku berniat menelepon si Boy, tiba tiba ku dengar bunyi pintu di ketuk, sepertinya boy sudah pulang aku bergegas menuju pintu tersebut dengan sedikit keherananku, kenapa boy harus mengetuk pintu segala, bukankah ini rumahnya dan harusnya dia bisa membuka pintu sendiri toh kan dia pegang kunci, tapi ya sudahlah mungkin dia ingin mengajakku bercanda.

Betapa terkejutnya saat ku bukakan pintu mataku terbelalak tajam, tubuhku tiba-tiba menjadi dingin dan bergetar hebat aku berjalan mundur dengan lemasnya, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku, sampai ku mendengar suara teriakan memanggilku dengan sebutan Ibu sambil berlari memeluk menubruk tubuhku, akupu masih diam seribu bahasa, sampai sesosok manusia yang tak asing lagi bagiku melayangkan tangannya dengan cepat di pipiku, dia suamiku….

Plaaakkkkkk….

aku tersungkur jatuh, tapi ku masih diam seribu bahasa, ku dapati anakku kembali berteriak memanggilku

“Ibu…..”

sambil menangis dan dia kembali memelukku. Putriku mungkin dia sangat merindukakku, meski hanya 3tahun 1 kali kita bertemu pada saat ku ambil cuti ternyata dia selalu mengingatku, aku terharu tapi aku juga masih dalam rasa bingung sekaligus malu.
Dan di luar pintu pun ku lihat kedua orang tuaku menangis, menatap miris dan mungkin dia juga malu melihatku begitu di depan suamiku, dalam hati aku masih bertanya-tanya bagai mana mereka bisa tahu dan menyusulku ke rumah boy, dan boy kemana dia, akupaun tak tahu harus menjelaskan apa kepada dia, aku benar-benar tak dapat berucap apa-apa.
Tidak lama kulihat boy pun datang, terlihat mukanya marah tatapan matanya pun sinis, melihat boy datang kulihat suamikupun semakin geram tapi kali ini dia hanya diam dan hanya bisa mengepalkan kedua telapak tangannya tanda menahan emosi dirinya, aku hanya bisa tertunduk bingung tak tahu apa yang harus ku ucapkan dan ku lakukan lagi.

“terimakasih nak….kamu sudah mau mengabarkan ini kepada kami”

ucapa Ibuku kepada boy.

Hah, aku hanya keheranan ku kerutkan kedua mataku sambil menatap Boy. Ku lihat boy pun balik menatapku sambil berucap.

“iya bu sama-sama, dan saya pun minta maaf dengan kejadian ini, saya sungguh tak tahu apa-apa, saya tidak tahu kalau dina itu masih jadi istri sah suaminya, ternyata dia membohongiku dia mengaku kalau dia sudah berstatus janda. Sungguh saya pun kecewa di buatnya bu”

“Boy….. Maafin aku sudah membohongi kamu, tapi aku sungguh sungguh sayang sama kamu, dan saya rela untuk meninggalkan suamiku, aku pun sudah berencana untuk meninggalkan dia…”

Rengek ku kepada boy, tapi boy tak menghirau kanku, tampak kekecewaan di wajahnya

“kamu sudah gila ya kamu kembali saja kekeluargamu, urus anak kamu dengan baik, aku ini setia nunggu kamu sampai pulang, ternyata kamu membohongiku aku benci di bohongi. kalau saja kedua temanmu yang ada di taiwan semalam tidak meneleponku, mungkin aku masih saja kau bohongi….”

Haaaahhhh….ada temanku yang menelepon boy ?! dan itu terjadi semalam, oh…. Aku baru ingat sekarang, semalam sekelar aku mandi ku dapati boy sedang menerima telepon yang dia bilang dari temannya ternyata itu dari temen-temenku yang comel… Tapi kenapa dia tidak langsung menegor dan menanyakannya padaku, kenapa boy harus menunggu keluargaku datang baru ngomong, setidaknya kejadian semalem yang tidak seharusnya kami lakukan gak usah terjadi, ternyata boy sama juga dengan laki laki lain tak mau melewatkan seseeatu dari perempuan padahal dia pun tahu kalau akhinya aku pun tak kan dia pertahnkan, tapi aku bisa apa,.aku juga tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada dia toh semalam aku juga dengan senang hati melakukannya tanpa ada paksaan dari dia, ku hanya bisa menyimpan ini dalam hati yang tak mungkin aku ucapkan didepan keluaragaku, yang ku anggap ini adalah kebodohan terbesar dalam hidupku

Suamiku masihkah dia menerimaku setelah kejadian ini, tapi kalaupun dia tak memaafkannya itu sangatlah wajar, dan aku bisa terima apapun keputusannya. Aku malu, malu pada diriku sendiri, malu pada ibu dan Bapakku malu pada suamiku, terlebih aku malu pada anakku, apa yang harus ku jelaskan padanya nanti, aku sudah memberikan pendidikan moral yang tidak baik kepadanya.

Aku sudah gagal menjaga kehormatanku sebagai wanita yang sudah bersuami, sedang suamiku begitu setia menunggu dan menantiku, dia juga telalten menjaga dan mendidik anak kami sendirian, aku juga sudah gagal menjadi ibu yang baik.
Mendapatkn maaf rasanya sudah tak layak bagiku, Tapi aku Ingin bertobat dengan sesungguh sugguhnya toubat, Semoga masih ada pintu ampunan dari yang Maha kuasa dan aku masih beri kesempatan untuk memperbaiki diriku dan menjadi istri,ibu dan muslimah yang baik…. Meski aku yang Nista Dina ini.

**

Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada nama tempat dan kejadian yang sama, ini hanya kebetulan.

By: Wiwik Rusana

AKU DENGAN CERITA CINTA TERLARANG

image

Sekitar kurang lebih 1000 undangan pernikahanku telah tersebar 1minggu yang lalu dan mungkin sudah sampai pada alamat yang di tuju. Dan hari ini segala macam persiapan sudah hampir menuju kelar untuk pesta dan akad nikahku. yah besok adalah masa aku untuk melepas masa lajangku menikah dengan laki-laki pilihanku, Mas Andre namanya dia keturunan jawa, Ayah dan ibunya orang jawa asli malang, berbeda dikit dengan aku ibu sunda tapi ayahku sama kaya keluarga mas Andre dari jawa malang,kami sebenarnya sudah lama mengenal sejak kuliah, tapi baru ketemu lagi secara tidak sengaja dalam urusan pekerjaan, dan lama kelamaan jadi akrab lalu kami menyegerakan untuk memutuskan menikah. Dia tidak begitu tampan tapi dia mampu memikatku, sifatnya dewasa, penyayang, disiplin, soleh pula. Kesolehan dan kedisiplinannya terbentuk karena memang dia berasal dari keluarga yang taat beribadah dan terbiasa hidup disiplin, Ayahnya adalah seorang tentara. Sosok mas Andre mampu menggantikan figur seorang kakak dan sekaligus ayah bagiku, yang memang tak pernah ku dapatkan kasih sayang dari kakak bahkan ayah. Aku adalah anak tunggal- ayahku meninggal ketika aku masih dalam kandungan dan sayangnya Ibu sudah tidak lagi menyimpan foto Ayah. Semua kenangan dan memori tentang ayah hangus ketika terjadi kebakaran dirumah dinas Ayah saat aku masih batita. Menurut ibuku ayahku juga seorang tentara (hem ada kesamaan lagi aku dg mas andre tentang Ayah) Ia meninggal ketika di tugaskan di luarkota.Tapi tentang bagaimana peristiwanya aku tak pernah mendapatkan penjelasan lebih dari ibu, akupun tak tega untuk mendesak ibu untuk menceritakan lebih karna setiap kali aku mulai menanyakan tersirat kesedihan di muka ibu. Yang jelas menurut ibu, Ayahku adalah sosok suami idaman, dan mungkin karna itu pula sampai saat ini ibuku tak berniat untuk menghadirkan pengganti. Ibuku begitu setia juga tabah menjalani hidup sendiri yang harus membesarkan, mencukupi kebutuhanku, memberikan pendidikan yang layak hingga aku lulus sarjana.

Besok aku sudah memulai dengan kehidupanku yang baru, dan seolah malam ini adalah malam perpisahanku dengan ibu, aku meminta ibuku menemaniku semalaman dikamarku. Aku tidur di pangkuan ibuku ku peluk ibu dengan erat, tangan ibuku yang lembut membelai-belai rambutku sambil sesekali menepuk-nepuk punggung ku…

“tidak terasa sekarang kamu sudah besar y neng,tugas ibu untuk menjaga amanat dari Allah sudah akan d ambil alih oleh suamimu, kamu jaga diri baik-baik jadi istri harus nurut apa kata suami, hilangin juga sedikit sifat manjamu itu”pesan ibu padaku

ibu jangan sedih dong, widi tetep anak ibu” jawabku sambil menengadah menapap muka ibu namun tak sedikit ku lepas pelukanku di pangkuan ibu.

Rombongan dari malang sepertinya sudah datang, meski tidak melihat langsung tapi dari suara orang-orang yang semakin riuh, juga terdngar beberapa bunyi mesin mobi sedang di parkirkan. aku dipingit dan tidak di ijinkan untuk keluar padahal aku juga ingin menyambut kedatangan calon keluarga baruku terlebih hmmm… ya calon suamiku, tapi ya sudahlah nurut aja apa kata adat orang tua, lagian aku juga harus istirahat agar keesokan harinya aku tetep fresh toh ibuku juga nemenin aku tidur di kamarku.

jam 1siang waktu bagian Bogor di jadwalkan sebagai akad pernikahanku. Semua mata sepertinya tertuju padaku yang baru saja keluar dari kamarku dengan gaun kebaya khas jawa yang serba putih, kepala berhiaskan mahkota dengan bunga melati menjuntai di rambutku, aku bak permaisuri  jalanpun di iringi para bidadari. Tak pula hilang dari sampingku sang bunda ratu yang
akan mengantarku menuju sang pangeran yang sejak tadi menungguku di depan penghulu.
Dek-dekan sih pastinya berasa makan permen nano yang berjuta rasa, sesekali aku juga meremas lengan ibu tanda kegugupanku. Ibuku hanya memandangiku dengan senyum tersungging dari bibirnya mengisyaratkan untuk agar aku tidak gugup. Semakin dekat dengan meja penghulu detupan jantungku pun makin kencang, nampak semakin jelas pula wajah pangeranku yang sedang menungguku di sana dengan senyumannya yang has.

Tapi setibanya di tempat, ku dapati ada yang aneh dengan Ibuku,perlahan ia melepaskan tangannya dariku dan pandangan matanya tertuju pada laki-laki separu baya yang sedari tadi duduk tak jauh dari mas andre yang taklain adalah Ayahnya mas andre, mereka saling menatap tajam seolah pertemuan ini bukan kalipertamanya bagi mereka. Muka ibupun berubah menjadi pucat pasih, ada sedikit tanda tanya dalam hatiku.

“bu…ibu…”
seruku sambil menarik tangan ibu bermaksud menyuruh ibu mensejajarkan duduk dengan orang orang yang sudah hadir terlebih dulu.

i…iya”
sahut Ibu agak sedikit gugup.

Dari mempelai wanita apakah walinya sudah hadir, juga saksi-saksi dari masing2 mempelai pria dan wanitanya sudh siap?”

tanya pak penghulu sambil menguluarkan berkas-berkas yang di butuhkan.

siaaap”

serempak para hadirin menjawab.
dari pihakku Om ku yang jadi walinya dan 2sahabatku yang jadi saksi sudah menanda tangani berkas yang penghulu kasih. sedang dari pihak Calon suamiku, kulihat mas Wisnu di tanyai pak penghulu mengenai hubungannya dengan calon suamiku

Hubungan anda dengan mempelai pria?”

saya kakaknya”
jawab mas wisnu,
dan pertnyaan yang sama juga di lontarkan kepada saksi kedua

saya Ayahnya”
jawab ayah mas Andre.
Bersamaan dengan itu kudapati Ibu terperanjak sangat kaget, lebih kaget dari saat tadi Ibu memandangi wajah Ayah mas Andre.

ke-2 mempelai sudah hadir, wali nikah dan para saksinyapun sudah hadir, semua persyaratanpun sudah lengkap apa acaranya bisa dimulai sekarang?”

kata pak penghulu yang akan memulai acara.
Saat pak penghulu akan memulai membaca doa pembukaan, tiba-tiba…

pernikahan ini tidak boleh dilanjutkan!”

tutur ibuku dengan nada tinggi tapi sedikit gemetar.
kontan saja suasana menjadi hening terlihat wajah keanehan pada semua orang yang ada pada saat itu tak terkecuali aku.

kenapa bu? ada yang…”

belum selesai pertanyaan yang di lontarkan pak penghulu, Ibuku sudah sigap melanjutkan gumamnya.

pernikahan ini tidak boleh di lanjutkan, karna kalian…sedarah”

ucap ibu sambil menatapku dan dengan berlinangan airmata.

“apa maksud ibu dengan kata2 sedarah???”

tanyaku yang sangat amat heran dan hampir tak percaya dengan kata-kata ibu.

“kalian bersaudara… Andre adalah kakakmu dan dia adalah Ayahmu”

seraya ibu menjelaskan sambil menjuk ke arah ayah mas Andre.

Aku benar-benar tak percaya, bagai mendengar petir di siang bolong. ini tidak mungkin bagai mana dengan aku dan cintaku kepada mas Andre.Orang yang selama ini aku cintai dan satu langkah lagi akan menjadi suamiku adalah Kakakku sendiri? Bagaimana dengan pernikahanku, kenapa semua harus begini. Aku tidak percaya tidak… tidak… tidak….

“wid…wid…widi…widi!!!, kamu teriak begitu histeris, bangun nak bangun”
seru Ibuku berusaha menyadarkan Aku. Akupun tersadar dan terperanjak kaget

“kamu keringetan, teriak2 kayak orang kesurupan, kamu mimpi buruk ya?”
tanya ibuku, sementara aku masih terdiam membisu dengan jantung yang berdetak cepat, nafas yang tersengal dan badan yang sedikit lemah. Disodorkan segelas air putih oleh ibu bermaksud menyuruhku untuk minum.
minum dulu biar kamu tenang, ngeliat kamu tertidur,tadi ibu keluar buat nemuin calon suamimu juga keluarganya”
ibuku menjelaskan.

“trus apa yang terjadi bu?apa ibu sebelumnya sudah kenal dengan orang tuanya mas andre?”

“ih… atuh kamumah aneh, ya jelas kenal atuh neng, pan mereka pernah datang sebelumnya saat lamaran, ya kecuali ayahnya andre ibu bru kali ini ketemu, kan dulu gak ikut  datang karna sakit”

“jadi ibu nggak kenal sama ayahnya mas andre?”
tanyaku sambil mendesak ibu

nggak”
jawab ibu sambil menggelengkan kepala

hufff… aku tarik nafas dan membuangnya perlahan sambil mengelus dada, syukurlah ternyata tadi cuma mimpi buruk. Mungkin ini pengaruh sinetron kesukaanku yang sering ku tonton saat aku punya waktu luang dimalam hari yang ceritanya hampir mirit dengan mimpiku tadi. Argggh… ternyata aku salah satu korban sinetron, tapi ini juga karna banyak hal2 yang kebetulan sama antara aku dan mas andre tentang Ayah. hingga alam bawah sadarku mampu berhayal kesitu.

udah subuh neng, kamu sholat subuh dulu gih biar nanti teteh2 yang mau ngerias kamu bisa mulai bekerja, andre juga sedang siap-siap, kamu juga buruan y neng” perintah ibuku.

Mendengar perintah dari Ibu, akupun segera beranjak dari tempat tidurku,Sambil tak henti-henti ku mengucap kata syukur, karena aku benar-benar tidak mengalami hal seperti di mimpiku tadi.

ini hari H pernikahanku, mudah mudahan semuanya dapat berjalan dengan lancar, dan kami di berkati menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.
Amiin…

 

***

Nb: cerita ini pure fiksi
by_ Wiwik Rusana

Ngilangin Stres dengan Tidur

image

Kalau lagi pusing / strees mungkin orang punya caranya masing-masing untuk ngilangin pusing/streesnya itu, entah dengan dengerin musik, jalan-jalan, shoping juga mungkin, baca buku or whatever lah. Begitu juga dengan aku punya cara sendiri untuk ngilangin sedikit ketika strees melanda yaitu dengan tidur…
Bener loh ini udah jadi kebiasaan ku dari dulu, kalo stres lagi melanda ku bawa tidur aja, dan sebangunnya dari tidur ya lumaya fresh gitu…

KERINDUAN

image

Ketika diri berteman sepi kerinduanpun menggema di jiwa… dan tersiratlah lara. Jarak yang memisahkan kita begitu jauh.

Tertunduk aku dalam lamunku, sunyi sepi hampa terasa. seakan mataharipun tak lagi mampu menghangati tubuhku. Nafasku tersengal oleh besarnya rasa kerinduan. Aliran darahku pun terasa tersumbat seolah pompanya tak lagi mampu bekerja dengan maksimal. Aku sakit dan tak ada satupun apotik yang menjual penawar rasa itu. Aku lemah tak berdaya Aku inginkan bahumu tuk sejenak sandarkan lelahku. Aku ingin pelukmu tuk lunturkan segala kerinduan. Aku inginkan suaramu tuk getarkan hatiku yang hampa.

Wahai imamku… kini sholatku pun sendiri tapi tak pernah ku lupa tuk menyebut namamu dalam setiap doa-doaku. Ku hanya ingin waktu cepatlah berlalu agar kita bisa bersama lagi. Agar jantungku bisa kembali berdetak dengan normal, agar nafasku tak lagi tersengal agar langkahku tak lagi terseret dan agar sholatku tak lagi sendiri.

oh… Tuhan, aku tahu ini takdirmu yang harus aku jalani dan aku juga ingin selalu berada dalam istiqomah, ampunilah keluhku… jalan setapak menuju keridhoanmu illahi, kususuri waktu meski dengan gagap mengintai ku pasti bisa melewatinya dan kembali indah bersama selamanya.

TAK PERNAH MATI

image

“Mah…mamah…”

Terdengar suara jeritan kakak laki-lakiku dari balik dinding yang berada persis d samping tubuhKu… spontan teriakannya membuatku kaget, sepertinya ku menyadari ada hal buruk mengenai Mamaku.
Tubuhku gemetar, lemah dan seakan tak bertenaga. Genggaman tanganku pada sebuah gelas
kaca berisi air yang sudah tak penuh lagi pun tak kuat ku menahannya, dan tanpa sengaja aku menjatuhkannya

“prang….”

bunyi gelas kaca yang beradu dengan lantai ubin terdengar nyaring. Gelas cantik itu kini berubah jadi serpihan-serpihan beling yang ter cecer di lantai dan sedikit air menggenang di situ. Tapi ah… Aku tidak mempedulikannya.
Dengan bergergas aku berlari, kakiku yang tanpa alaspun berciuman dengan serpihan beling tadi dan berdarah. sekali lagi aku tak peduli, aku teruskan langkah seribuku menuju sumber suara tadi…

“mama….”
Teriaku sambil berlalu hendak menghampirinya, tapi sial beberapa orang yang ku tak jelas siapa-siapa saja karena aku benar-benar tak mempedulikan mereka, yang aku mau saat itu benar-benar ingin berada di samping tubuh mamaku, mamaku sedang sakit keras kala itu. mereka sedikitpun tidak mengijinkan aku masuk kedalam sana dan berusaha menenangkanku meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi aku sama sekali tidak yakin karena di dalam sana kakak ku dan beberapa orang sedang bergumam istigfar- seraya menuntun Mamaku.

Aku hanya berteriak-teriak memanggil-manggil mamaku, menangis dan meronta-ronta dengan hati yang begitu cemas dan takut… aku tidak mampu melawan pertahanan itu, tubuhku pun semakin melemah dan akhirnya tak sadarkan diri dan akupun tak lagi tahu apa yang terjadi.

Kenapa tadi aku harus meninggalkan kamar Mama, kenapa aku harus dengarkan ucapan mama, kenapa tidak ku bantah perintahnya ketika Dia menyuruhku pergi kedapur untuk minum, yang kata Mamaku Dia tak tega melihatku membaca Al-quran sambil menangis dan tersedu-sedu, harusnya aku tetap berada di sana melihat Mamaku, mendampinginya… kenapa kenapa tadi aku harus meninggalkan kamar itu, kalau akhirnya aku tak dapat masuk lagi. Lantunan ayat-ayat suci seraya membangunkanku dari ketidak sadaranku, terbangun aku, ku lihat nenek ku sedang menangis tersedu d sampingku… “kamu sudah sadar… sabar y ndo” nenek ku berujar sambil tak hentinya menangis pilu. aku bingung… dan sedikit menebak-nebak apa yang sudah terjadi, ku segerakan beranjak dari ranjang kamar tidur ku, ah… kaki ku sakit, ku lihat ada perban
membalut di kakiku, rupanya pecahan beling sudah merobek kakiku… aku lanjutkan berjalan sambil sedikit menyeret kaki kiriku yang berbalut perban. langkahku terhenti seketika, ketika mata ku tertuju pada sesuatu yang ach apa itu…??? sesuatu yang tertutup kain batik has pekalongan, sama sekali tak terlihat isi di dalamnya… benda itu berada di tengah-tengah ruang tamu, di kerumuni sejumlah orang-orang berkopiah dan berkerudung yang masing-masing tangannya berhiaskan Al-quran. Ayah ku,Kakak laki2 ku, Kakak perempuanku, paman ku, kulihat juga berada di kerumunan itu. Kakak perempuanku beranjak dan menghampiri ku, dia peluk tubuhku dengan erat sambil tersedu… aku semakin bingung, “Kita harus sabar ya de… mama sudah tidak ada” Tersentak aku, ku tatap kakakku dengan tajam seakan menjukan ketidak percayaanku, ku gelengkan kepala tanpa berujar sedikitpun… air mataku kembali meluap, tubuhkupun kembali bergetar dan lemah ku jatuh tersimpuh tapi kali ini aku tidak pinsan, aku hendak bergerak menuju benda yang tertutup rapat itu, yang sekarang ku tahu ternyata sesuatu yang tertutup itu adalah tubuh mamaku yang terbujur kaku tak bernyawa lagi. kali ini kakak perempuanku yang melarangku kesana dengan alasan takut air mataku menetesi jenajah mamah. “kita doakan saja biar kepergian mamah tenang” ujar kakak perempuanku lagi seakan mensuport ku. Aku sudah tidak bisa berfikir apa-apa lagi, aku hanya pasrah meski masih saja tak percaya ini benar-benar terjadi, ku segerakan mengambil wudlu… bermaksud agar bisa ikut membaca Al-quran untuk mendoakan mendiang mamaku, aku baca dengan tangisan yang tak henti hingga membuat mataku bengkak, aku baca dengan terbatah-batah karena sedu tangisku, aku baca meskipunm dari ruang keluarga yang bersebelahan dengan ruang tamu tempat mamaku di baringkan, aku hanya bisa melihat dari kejauhan saja tidak bersama-sama yang lain yang mungkin lebih kuat dari aku untuk menahan tangis, sehingga bisa berada dekat dengan tubuh mamaku. proses demi proses dari memandikan jenajah, menyolatkan jenajah hingga pemakaman tlah usai dan aku benar-benar tak terlibat didalamnya. Kini aku benar-benar hidup tanpa Mamaku lagi, kematian sama sekali tidak menunggu kesiapanku untuk di tinggalkan, kematianpun tak dapat digantikan…. tidak dapat bertukar nyawa, kalau saja nyawa bisa ditukar, ” Ya Allah ambil saja nyawaku tukar saja dengan aku yang sudah renta ini” ujar nenekku. Bukan berarti aku lebih mengharapkan nenekku duluan yang meninggal, tu cuma gambaran tentang takdir kematian. Bahwa benar kematian d ibaratkan tiket pesawat, yang tidak bisa di uangkan, tidak bisa di tunda, dan tidak bisa di gantikan. Aku hanya harus bisa membiasakan diri hidup tanpa mamahku… itu kata batin ku waktu itu dan aku harus segera bangktit meski sulit, dan sekali lagi kadang masih tak mempercayai itu terjadi. Hampir 9th ku hidup tanpa mamaku, tapi kenanganku TAK PERNAH MATI bersamanya, Dia selalu di haiku, Dia TAK PERNAH MATI. Mah… ini aku putri kecilmu yang dulu manja, yang tak lagi dengan kebiasaan-kebiasaan buruknya, bangun siang, sembarangan naruh pakaian kotor, mberantakin isi rumah tidak pernah tahu bagai mana megang sapu, kelar makan tinggal maen tidak pernah tahu bagai mana nyuci piring, tidak akan makan kalau tidak dengan lauk-pauk yang aku sukai. Sekarang aku sudah bisa mandiri,bisa merapihkan rumah,nyuci nyetrika baju, bahkan sekarang aku juga pinter masak… Mah… ini aku putri kecilmu yang manja itu, kini ku sudah menjadi wanita yang tabah dan tak cengeng lagi, yang tak lagi menginginkan sesuatu hanya dengan modal air mata dan merajuk. Aku bisa dapatkan apa yang aku mau itu hanya dengan usaha dan kerja kerasku. Mah… semoga kau disana bangga melihatku tumbuh menjadi wanita yang kuat dan tak cengeng lagi, aku akan selalu optimis aku yakin aku bisa mencapai cita-cita yang ku impikan… Mah… Ada dan tiada dirimu kan selalu di hati dan TIDAK AKAN PERNAH MATI… Love u mom as long…

keep spirit

Tak akan pernah ku batasi rasa kesabran yang ku punya,
Tidak ada yang bisa membuat ku kuat selain diri ku sendiri meski terkadang dukungan saran dari orang lain pun lebih-lebih orang yang kita cintai dibutuhkan.
Kehidupan lebih nyata dari pada pendapat siapapun tentang kenyataan.

Maka inilah aku yang harus kuat seperti WONDER WOMEN
seperkasa SRI KANDI
Dan setabah SITI HAJAR
(pi pa bisa y? Susah!) pi harus tetep berusaha#

Ku ukir senyum ikhlasku untuk menghiasi jiwa pendongkrak semangat.

Harus mampu berdiri meskipun di atas puing-puing kecil tajam dan kadang menusuk

Aku harus bisa lebih kuat…
Harus tetap mampu tersenyum saat terlupakan,
Tabah saat dihina dan tidak di pedulikan,
Masih mampu tertawa meski batin menangis,
Mampu memaafkan…

Karena laki-lakipun tidak akan pernah merasa tentram hidup tanpa kehadiran kaum wanita
(kecuali tuh cowk gak normal :D)
dan di balik kesuksesan priapun kebanyakan karena ada sosok wanita tangguh di belakangnya.

Maka dari itu aku merasa dituntut lebih kuat, hidup menjadi seorang wanita karena selain harus bisa mewujudkan impian masa depan sendiri, juga harus menjadi pendukung sepenuhnya bagi partner hidup juga member keluarganya…

so Just 1more say 4 my self…

Go wiwik go…
#lagi kampanye hehehe…

Aku Bukan Penulis

Aku bukan seorang penulis apa lagi jurnalis

Tapi pena dan kertas sudah menjadi sahabatku sedari dulu Saat hati suka mata pena pun menggoreskan gambaran warna warni pada helaian kertas yang wah ceria sekali

Yah… begitu pula saat hati kelu seakan penapun ikut juga merasa pilu lalu dia labuhkan pada kertas yang menggambarkan kelabu

Kertas dan pena sudah jadi sahabat ku tapi itu dulu… Karna kini ku akan mencoba padukan jemariku pada tombol-tombol yang kaku…

Ku mulai saja padukan hatiku dengan detakan tombol-tombol yang kaku itu

Ku biarkan jempol ku melaju Hingga terdengar bunyi lagu Yah… yang mudah mudahan bisa terdengar merdu karna ku satukan dengan suara kalbu

Aku bukan penulis apa lagi jurnalis Tapi aku ingin keluarkan dentingan dentingan puitis dari hati yang kadang datana kebahagiaan yang fantastis namun kadang juga kepedihan yang miris

Aku hanya suka menulis karna Bagiku menulis bukan hanya untuk para jurnalis ataupun penggagas sajak sajak indah nan romantis

Aku hanya suka menulis meskipun bukan penulis apa lagi jurnalis.